Ada fakta yang jarang dibantah. Banyak perempuan menyukai pria yang wangi. Namun di sisi lain, tidak sedikit pria yang merasa wangi itu opsional, bahkan merepotkan. Bagi sebagian pria, cukup tidak bau saja sudah lebih dari cukup.
Di titik inilah sering muncul jarak kecil dalam ekspektasi. Bukan konflik besar, hanya beda sudut pandang. Yang satu mengejar aroma, yang lain mengejar netral.
Bagi banyak pria, wangi sering diasosiasikan dengan sesuatu yang berlebihan. Terlalu manis, terlalu kuat, atau terlalu mencolok. Ada kekhawatiran dianggap berusaha terlalu keras, atau bahkan kehilangan kesan maskulin.
Selain itu, sebagian pria memandang parfum sebagai pelengkap, bukan kebutuhan. Selama tubuh bersih dan tidak menimbulkan bau tidak sedap, urusan aroma dianggap selesai. Praktis, cepat, dan tidak ribet.
Ada pula faktor kebiasaan. Pria yang terbiasa beraktivitas fisik, berkeringat, dan berpindah tempat cenderung lebih fokus kepada kebersihan dasar. Deodoran dan mandi dianggap cukup untuk menjaga kenyamanan diri sendiri.
Wangi Versus Nyaman, Benarkah Harus Dipertentangkan
Di sinilah sering terjadi salah paham kecil. Bagi banyak wanita, wangi bukan soal pamer aroma, melainkan sinyal perhatian. Wangi memberi kesan rapi, siap bertemu orang lain, dan peduli pada detail.
Padahal, wangi tidak selalu berarti parfum tajam yang tercium dari jarak dua meter. Aroma yang lembut, bersih, dan dekat justru sering terasa lebih nyaman. Di titik ini, pria dan wanita sebenarnya bisa bertemu di tengah.
Kuncinya ada pada pendekatan. Bukan soal menjadi wangi berlebihan, melainkan memilih aroma yang terasa natural dan menyatu dengan aktivitas harian.
Menyiasati Perbedaan Tanpa Mengorbankan Diri Sendiri
Bagi pria yang tidak ingin terlalu 'harum', memilih produk dengan aroma ringan bisa menjadi jalan tengah. Sabun mandi, sampo, atau body lotion dengan aroma bersih sudah cukup membangun kesan segar tanpa terasa menyolok.
Parfum pun bisa dipilih dengan karakter subtle. Aroma woody ringan, citrus lembut, atau musk tipis sering terasa maskulin tanpa berisik. Digunakan secukupnya, aroma ini hanya tercium saat jarak dekat, bukan mendahului kehadiran.
Yang terpenting, wangi sebaiknya dilihat sebagai bentuk komunikasi nonverbal. Bukan tuntutan, bukan juga paksaan. Sekadar usaha kecil untuk menunjukkan kepedulian, tanpa harus mengubah jati diri.
Pria tak harus selalu wangi. Namun memahami bahwa aroma juga bagian dari interaksi sosial bisa menjadi langkah dewasa. Tidak bau itu penting. Wangi yang pas, itu nilai tambah. [][Rommy Rimbarawa/TBV]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi