Bisa jadi bukan karena produk Anda salah melainkan karena Anda melewatkan satu produk paling penting dalam rutinitas yakni sunscreen.
Menariknya, sunscreen zaman sekarang bukan lagi sekadar pelindung UV. Ia sudah berevolusi menjadi skin treatment yang bisa mengatasi jerawat, anti aging, brightening hingga menjaga skin barrier. Dalam beberapa tahun terakhir, sunscreen berubah dari “opsional” menjadi produk skincare paling wajib. Jika dulu orang fokus pada serum vitamin C, toner exfoliating, atau pelembap hydrate-boosting, kini kesadaran baru muncul: tidak ada skincare yang benar-benar bekerja tanpa sunscreen.
Perubahan gaya hidup dan gaya perawatan kulit juga berperan. Setelah era 10-step skincare yang melelahkan, konsumen kini lebih memilih rutinitas minimalis dan efisien. Dalam pola baru ini, sunscreen menempati posisi sentral sebagai penjaga kesehatan kulit sehari-hari.
Lebih dari sekadar tameng UV, sunscreen modern diposisikan sebagai produk perawatan inti yang berfungsi menjaga kulit tetap muda, cerah, dan kuat dari dalam. Inilah yang membuatnya bukan hanya UV protection, tetapi bagian penting dari konsep skin health.
Fungsi Sunscreen Secara Umum
Perlindungan dari UVA & UVB; UVA menyebabkan penuaan dini (A = Aging), sedangkan UVB menyebabkan kulit terbakar (B = Burning). Kedua radiasi ini berkontribusi pada kerusakan DNA sel kulit. Sunscreen dengan SPF dan PA yang tepat membantu memblokir risiko tersebut.
Mencegah Photoaging; Radiasi UV adalah salah satu penyebab utama kerutan, garis halus, flek, dan kulit yang tampak tua sebelum waktunya. Dengan penggunaan rutin, sunscreen membantu menjaga kulit tetap elastis, cerah, dan merata.
Mengurangi Risiko Kanker Kulit; Mencegah kerusakan DNA berarti mengurangi risiko jangka panjang, termasuk kanker kulit akibat paparan UV berlebih.
Menjaga Skin Barrier; Di era paparan polusi, blue light dari gadget, dan suhu panas yang ekstrim, sunscreen kini berfungsi sebagai pelindung lapisan luar kulit. Filter UV + antioksidan bekerja serupa “perisai” untuk mempertahankan barrier agar tetap sehat.
Jenis-Jenis Sunscreen & Karakteristiknya
Sunscreen kimia atau chemical sunscreen bekerja dengan cara menyerap sinar UV kemudian mengubahnya menjadi panas yang tidak berbahaya bagi kulit. Jenis sunscreen ini dikenal memiliki tekstur yang lebih ringan, mudah diratakan, dan cenderung tidak meninggalkan whitecast sehingga nyaman digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Meskipun demikian, beberapa orang dengan kulit sensitif mungkin mengalami iritasi tergantung pada jenis filter yang digunakan dalam formulanya. Bahan aktif yang umum ditemukan dalam sunscreen kimia meliputi avobenzone, tinosorb, uvinul A+, uvinul T150, dan octocrylene, yang semuanya berfungsi sebagai UV filter untuk memberikan perlindungan optimal terhadap paparan sinar matahari.
Sunscreen fisik atau mineral bekerja dengan cara memantulkan sinar UV sebelum menembus permukaan kulit. Jenis sunscreen ini menggunakan bahan utama berupa zinc oxide dan titanium dioxide yang dikenal aman dan stabil sehingga sering direkomendasikan untuk kulit sensitif. Meskipun memberikan perlindungan yang baik, sunscreen mineral cenderung meninggalkan whitecast dan memiliki tekstur yang lebih berat dibandingkan sunscreen kimia. Namun, perkembangan teknologi seperti nano mineral dan coated minerals membuat formulasi sunscreen fisik modern terasa lebih halus, mudah diratakan, dan jauh lebih nyaman digunakan sehari-hari.
Sunscreen hybrid merupakan jenis sunscreen yang menggabungkan filter kimia dan fisik dalam satu formulasi sehingga mampu memberikan perlindungan yang lebih stabil terhadap sinar UV. Teksturnya umumnya lebih ringan dibanding sunscreen mineral murni dan menghasilkan whitecast yang jauh lebih minimal sehingga terasa nyaman saat digunakan sehari-hari. Kombinasi kedua jenis filter ini membuat sunscreen hybrid menjadi salah satu pilihan paling populer di Asia karena memberikan keseimbangan antara kenyamanan, estetika, dan efektivitas perlindungan kulit di bawah matahari.
Evolusi Sunscreen: Dari UV Protection ke Skin Treatment
Tren sunscreen modern semakin berkembang karena banyak brand kini merancang sunscreen sebagai perpaduan UV protection dan skincare sehingga fungsinya menyerupai day moisturizer versi baru. Formulasi ini membuat penggunaan sunscreen jauh lebih praktis, mendukung rutinitas skincare minimalis, dan tetap menjaga hidrasi serta kesehatan kulit tanpa perlu banyak layering. Dalam perkembangannya, sunscreen tidak hanya berfungsi sebagai pelindung sinar UV, tetapi juga sebagai perawatan aktif yang menyasar berbagai masalah kulit.
Untuk kulit berjerawat, sunscreen masa kini sering dilengkapi bahan seperti niacinamide, centella asiatica, mikro salicylic acid, dan ekstrak green tea yang membantu menenangkan inflamasi, mengontrol minyak, serta memperkuat skin barrier sehingga kulit lebih stabil meski terpapar matahari. Pada kondisi flek dan hiperpigmentasi, formulasi sunscreen biasanya diperkaya tranexamic acid, alpha arbutin, licorice, atau vitamin C stabil yang mampu mencegah dark spot rebound sekaligus membantu meratakan warna kulit.
Sementara itu sunscreen anti aging dirancang dengan peptides, ceramides, adenosine, dan hyaluronic acid yang menjaga elastisitas dan kelembapan kulit, dengan fokus utama pada perlindungan UVA jangka panjang sebagai kunci pencegah garis halus dan kerutan.
Di tengah gaya hidup urban, sunscreen dengan perlindungan anti pollution dan blue light juga semakin populer karena kandungan seperti ectoin, moringa seed extract, dan kompleks antioksidan efektif melawan radikal bebas dari polusi dan cahaya gadget. Selain itu, sunscreen yang ramah skin barrier menggabungkan ceramide, cholesterol, dan fatty acid untuk memperkuat lapisan pelindung kulit, sejalan dengan tren skinimalism yang menekankan hasil maksimal dengan produk yang lebih sedikit.
Dengan berbagai inovasi ini, sunscreen menjadi produk yang tidak hanya melindungi tetapi juga merawat, menjadikannya elemen penting dalam perawatan kulit modern dan pencarian kulit sehat jangka panjang.
Tantangan dan Misinformasi Seputar Sunscreen
“Sunscreen bikin jerawatan”
Faktanya, jerawat muncul karena formulasi tidak sesuai jenis kulit.
Solusi: pilih tekstur gel/water-based atau sunscreen dengan label non-comedogenic.
“SPF besar = aman seharian”
SPF hanya mengukur perlindungan UVB, dan daya tahannya tidak bertahan 8–12 jam tanpa reapply.
“Asal pakai sunscreen, PA tidak penting”
PA menentukan perlindungan UVA (aging). Untuk negara tropis, minimal PA++++ sangat direkomendasikan terutama di negara tropis karena paparan UVA yang konstan.
Tidak Reapply
Sunscreen terdegradasi oleh keringat, minyak wajah, dan panas. Reapply setiap 2–3 jam adalah kunci.
“Sunscreen cukup sekali sehari”
Pada aktivitas indoor sekalipun, paparan cahaya matahari dan blue light tetap dapat menembus ruangan. Meskipun tidak berada di bawah sinar matahari langsung, lingkungan indoor tetap memberi paparan UV dan blue light yang cukup untuk menurunkan fungsi perlindungan kulit sehingga reapply sunscreen tetaplah penting.
Sunscreen telah berevolusi jauh dari sekadar tabir surya. Ia kini menjadi produk inti dalam rutinitas skincare minimalis yang mampu melindungi sekaligus merawat kulit. Dengan banyaknya pilihan seperti chemical, mineral, hybrid, hingga sunscreen treatment untuk jerawat, flek, dan anti-aging, setiap orang kini dapat memilih sunscreen sesuai kebutuhan.
Pemilihan yang sesuai bukan hanya memastikan perlindungan optimal, tetapi juga membantu kulit mencapai kondisi terbaiknya dalam jangka panjang. [] [Mira Savina/TBV]